Kamis, 22 Maret 2012

PERAN PENDIDIKAN DALAM MENYELAMATKAN KRISIS BANGSA


PERAN PENDIDIKAN DALAM MENYELAMATKAN KRISIS BANGSA


Indonesia adalah sebuah Negara yang besar dan disegani di berbagai belahan Negara manapun, kita memiliki kekayaan yang melimpah, sumberdaya yang mencukupi, letak geografis yang strategis, warisan budaya yang beraneka ragam, yang belum tentu dimiliki oleh Negara manapun  di dunia ini. Seharusnya saat ini Indonesia merupakan Negara terbesar dan termaju di asia tenggara, namun dalam kenyataannya indeks pembangunan bangsa kita masih kalah oleh singapura bahkan oleh tetangga kita sendiri Malaysia.
Indonesia saat ini berada dalam sebuah situasi yang sangat memprihatinkan, kita terjajah oleh yang namanya korupsi, kebodohan, pengangguran dan lainnya, tiap hari kita di suguhi oleh berita-berita korupsi, pembunuhan, kemaksiatan, kehidupan anak-anak jalanan, dan kesenjangan-kesenjangan social, hukum, ekonomi dan budaya lainnya.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan negeri ini padahal kita adalah Negara yang kaya baik sumberdaya alam, manusia, budaya. Bahkan kita adalah negeri yang beragama, yang didalamnya terdapat beberapa agama besar.
Salah satu hal masalah yang paling krusial di negeri ini adalah tindak pidana korupsi, mengapa sampai saat ini masalah korupsi belum terselesaikan seakan menjadi budaya di negeri ini, kemanakah hukum di negeri ini, kemanakah nilai-nilai agama dan budaya yang mengajarkan budi pekerti yang baik pada diri kita. Ada apa dengan negeri ini.
Akar pokok masalah dinegeri ini adalah bahwa saat ini Indonesia mengalami suatu krisis yaitu krisis moral dan ahlak, kita telah terbawa arus globalisasi dan melupakan nilai-nilai budi pekerti yang baik, yang akhirnya kita mengalami kesenjangna baik hukum, social, ekonomi dan budaya.
Bagaimanakah peran dunia pendidikan dalam mengatasi krisis bangsa ini, dunia pendidikan adalah tempat dimana memanusiakan manusia itu sendiri. Dunia pendidikan memiliki peran penting dalam pembentukan moral dan ahlak anak didiknya tentunya ini harus dibarengi oleh moral dan ahlak pendidiknya, karena mereka adalah suri teladan bagi anak didiknya
Dalam mengatasi krisis bangsa ini ada 3 hal yang bisa kita lakukan oleh dunia pendidikan yaitu membentuk kembali karakter anak didik, mengajarkan dan menerapkan nilai-nilai agama, dan meningkatkan daya kritis dan  kreatifitas anak didik.

MEMBENTUK KARAKTER
Karakter merupakan tata nilai yang mewujud dalam system daya dorong atau driving system yang melandasi pikiran sikap dan perilaku. Apa yang diharapkan oleh pendidik oleh anak didiknya, tentu saja mereka berharap mereka menjadi orang yang dapat meraih cita-citanya mengharumkan bangsa dan Negara ini. Namun bagaimana jika anak didik kita ternyata dimasa depan malah menjadi perusak negeri ini. Seperti melakukan tindak pidana korupsi, apakah yang salah dengan dengan anak didik kita, apakah karena lingkungannya, pendidikannya, ajaran orang tuanya. Banyak hal yang bisa menyebabkan itu terjadi.
Dunia pendidikan memiliki peran penting dalam menciptakan anak didik yang berkualitas, membentuk karakter mereka dengan sikap-sikap budi pekerti yang baik, sikap kejujuran, tanggung jawab, pekerja keras, bertoleransi dan sikap budi pekerti yang lainnya. Sikap kejujuran merupakan karakter yang diperlukan untuk saat ini dalam menghadapi permasalahan korupsi di negeri ini. Membentuk karakter yang seperti itu memerlukan proses yang lama karena karakter bersifat melekat pada jiwa/ hati nurani seseorang yang tidak akan begitu saja luntur oleh sesuatu hal. Samuel smiles , seorang moralis dari skotlandia mengatakan “tanamlah pikiran, kau akan menuai tindakan, tanamlah tindakan kau akan menuai watak, tanamlah watak kau akan menuai nasib.(low of the harves)”.
Pendidik memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak melalui pembentukan pola pikir dan tindakan, pendidik sebagai suri teladan yang baik bagi anak didiknya harus mampu menunjukan hal-hal positif bagi anak didiknya sehingga anak didiknya mampu memahami dan meniru panutannya yang bisa diterapkan anak didiknya dikehidupan sehari-harinya. Jika seorang pendidik ingin anak didiknya tidak merokok dikemudian hari maka pendidik tidak boleh merokok baik itu di lingkungan pendidikan ataupun diluar lingkungan pendidikan karena anak didik akan meniru apa yang menjadi panutannya/ suri teladannya.

MENERAPKAN NILAI AGAMA
Salah satu masalah kehidupan di negeri sekuler adalah memisahkan kehidupan agama dengan pemerintahan, walaupun Indonesia tidak seratus persen menjadi Negara sekuler terutama dalam dunia pendidikan namun kita bisa melihat berapa banyak nilai-nilai agama yang diajarkan sekolah (bukan sekolah berbasis agama) dalam satu minggu, paling hanya 2 atau 4 jam. Apakah mungkin nilai-nilai agama dapat melekat pada anak didik, mungkin anak didik mengetahui nilai-nilai agama tersebut namun apakah nilai-nilai agama tersebut melekat pada jiwa mereka yang diaktualisasikan dalam kehidupan mereka.
Bukankah Negara Indonesia adalah Negara yang penduduknya beragama, dimana agama menebarkan budi-budi pekerti yang baik namun dari tahun ketahun tindak kejahatan, kemaksiatan dan perbuatan dosa lainnya bukannya menurun malah meningkat. Apakah karena tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah yang menyebabkan itu, bukankah kita menyaksikan sendiri bahwa para koruptor itu merupakan orang-orang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi yang sanggup belajar ke luar negeri dan memiliki tingkat ekonomi yang baik masih sanggup melakukan tindak kejahatan korupsi, ironis sekali mereka yang bisa dikatakan orang terpelajar masih bisa melakukan tindak kejahatan apalagi yang tidak. Seperti pepatah mengatakan “ilmu tampa agama buta”. Inilah yang dihadapi Negara ini hilangnya nilai-nilai agama dalam diri dan kehidupan kita. Disinilah peran penting dunia pendidikan sebagai peletak dasar nilai-nilai budi pekerti (agama) kepada anak-anak didiknya.
Sekolah saat ini lebih mengutamakan sains dari pada ilmu agama padahal dalam Al-Quran terdapat juga ilmu sais, hokum, social, maupun budaya. Padahal itu dibuat berabad-abad lalu, namun kita baru menemukannya ilmunya sekarang. Ironis sekali kalu kita mengesampingkan ilmu-ilmu agama (al quran). Dunia pendidikan harus mampu menggambungkan antar kebutuhan intelegensi (IQ) dengan kebutuhan spiritual (SQ) sehingga menghasilkan anak didik yang tidak hanya cerdas tapi juga bertakwa.

MENINGKATKAN DAYA KRITIS DAN KREATIFITAS
Dunia pendidikan seharusnya bukan untuk menjawab tantangan masa depan dengan memenuhi kebutuhan pasar industri, tapi dunia pendidikan haruslah bisa menciptakan sesuatu dimasa depan. Dalam artian bahwa dunia penidikan tidak didirikan untuk memenuhi atau macth dengan dunia industri sehingga lulusannya bisa terserap oleh industri. Tapi dunia pendidikan haruslah bisa membuat anak didik yang mampu membuat sesuatu dimasa depan dengan pikiran-pikiran yang kritis dan kreatif; kritis yaitu anak didik mampu memahami kondisi lingkungannya dengan baik dan menjawab tantangan maupun peluang yang ada; kreatif yaitu anak didik harus mampu menghasilkan sesuatu yang baru.
Saat ini lulusan dunia pendidikan seperti piramida, banyak sekolah/kampus yang menciptakan lulusan untuk bidang tertentu atau menyesuaikan dengan permintaan pasar alhasil sekolah/ kampus banyak menciptakan lulusan namun dunia kerja terbatas sehinga banyak lulusan kerja yang menganggur.
Dunia pendidikan harus lah menciptakan lulusan yang kritis dan kreatif, kenapa banyak sekali lulusan yang masih menggangur ini di karenakan mereka tidak memiliki daya kritis maupun kreatif yang memadai.  Ketika mereka gagal dalam mencari pekerjaan mereka tidak mampu kritis dalam melihat lingkungannya untuk menjadikan  peluang, dan  kreatif dalam merubah peluang tersebut untuk menjadi sesuatu yang berguna untuknya. Yang terjadi mereka berusaha mencari kerja di tempat lainnya.
Saar ini Indonesia kekurangan sosok-sosok berkarakter enterpreuner dalam mengatasi masalah pengangguran negeri ini, sekolah mungkin mengajarkan tentang enteurprener kepada anak didiknya namun sekolah tidak menjadikan itu melekat kepada jiwa mereka.  Sekolah lebih banyak mengajarkan bagaimana menjadi anak pintar, nilai bagus agar nanti mudah di terima kerja.
Seharusnya sekolah tidak hanya menghasilkan lulusan-lulusan yang pintar saja namun mereka menghasilkan juga lulusan-lulusan yang memiliki jiwa yang berkarakter enterpreuner. Semakin banyak sekolah menghasilkan enerpreuner baru , maka semakin besar peluang untuk menghasilkan lapangan kerja baru dan semakin besar pula upaya untuk mengatasi masalah pengangguran.

Kesimpulan
Indonesia saat ini mengalami krisis yang sudah sangat akut yaitu krisis moral dan ahlak dan dunia pendidikan memiliki peran penting dalam memperbaiki itu karena dunia pendidikan merupakan peletak dasar budi pekerti.  Dunia pendidikan tidak menghasilkan lulusan yang pintar secara pikiran namun gelap secara hati nurani. Perlunya sebuah  system yang dapat menggabungkan, kecerdasan (IQ) dengan karekter yang berkualitas (EQ) dan nurani yang bersumber dari ilahi (SQ)  sehingga akan menghsilkan sebuah perilaku yang baik (AQ)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar